
Harga emas memperpanjang reli pada hari Selasa, mencapai level tertinggi tiga bulan karena investor terus mencermati dampak intervensi Departemen Keuangan AS di pasar obligasi, sementara meningkatnya ketegangan perdagangan dan geopolitik turut mendorong permintaan terhadap emas. Pada pukul 20:59 ET (00:59 GMT), harga emas naik 0,8% menjadi $4.688,96 per ons, sementara Emas Berjangka menguat 1% menjadi $4.746,09. Harga perak naik 0,8% menjadi $69,51 per ons, dan harga platinum naik 0,5% menjadi $1.889,32. Indeks Dolar AS relatif tidak berubah di 98,98.
Harga emas telah naik lebih dari 7% dalam empat sesi perdagangan terakhir, melanjutkan penguatan pekan lalu dan membawa logam ini semakin jauh di atas level $4.600. Pergerakan terbaru ini sebagian besar didorong oleh keputusan mengejutkan Departemen Keuangan AS pekan lalu untuk meningkatkan pembelian kembali utang pemerintah berjangka waktu lebih panjang. Intervensi tersebut menekan imbal hasil obligasi dan melemahkan dolar, sehingga harga emas menjadi lebih murah bagi pembeli dari luar negeri.
Langkah ini juga memicu kembali kekhawatiran investor mengenai posisi fiskal pemerintah AS dan apakah upaya untuk secara langsung mengendalikan biaya pinjaman dapat melemahkan kepercayaan terhadap dolar. Menteri Keuangan Scott Bessent menyatakan kesiapannya untuk memperluas pembelian kembali utang berjangka panjang, meskipun ia tidak memberikan indikasi baru mengenai langkah tambahan pada hari Senin. Ia juga mengatakan bahwa pemerintah akan segera meluncurkan inisiatif fiskal yang bertujuan mengatasi tingginya biaya pinjaman pemerintah.
Pergeseran kebijakan ini telah menghidupkan kembali apa yang disebut sebagai perdagangan debasement, yang sebelumnya turut mendorong lonjakan harga emas sekitar 65% pada tahun 2025. Secara sederhana, investor semakin memandang emas sebagai lindung nilai terhadap kemungkinan bahwa kebijakan fiskal yang agresif dan kondisi keuangan yang lebih longgar dapat melemahkan daya beli dolar seiring berjalannya waktu. Pemerintah AS telah mengancam akan menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap negara-negara yang terus menjalin bisnis dengan Iran sebagai bagian dari kampanye untuk mengisolasi Teheran.
Pada saat yang sama, sengketa perdagangan antara AS dan Kanada kian memanas setelah perundingan menemui jalan buntu, dengan Washington memberlakukan tarif 50% terhadap sejumlah produk Kanada dan mengancam akan menerapkan tarif serupa pada mobil, truk, serta suku cadang otomotif asal Kanada mulai Januari 2027. Perkembangan tersebut menguji peran emas sebagai instrumen diversifikasi portofolio di tengah upaya investor dalam menyikapi berbagai faktor, mulai dari kekhawatiran fiskal, ketegangan perdagangan, dan risiko geopolitik, hingga ketidakpastian mengenai kebijakan moneter.(Investing, The Straits Times)