Yen Anjlok Setelah Kenaikan Suku Bunga BoJ Sesuai Perkiraan

     Yen merosot terhadap mata uang utama lainnya dalam perdagangan Asia pada hari Jumat, setelah langkah Bank of Japan menaikkan suku bunga seperti sudah banyak diperkirakan gagal membendung penurunan mata uang tersebut. Mata uang Jepang itu melemah sebesar 0,8% ke 157,145 yen per dolar, terlemah sejak 3 September, meskipun BoJ telah menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam lebih dari tiga dekade.

     Keputusan tersebut tidak diambil secara bulat, dengan dua anggota dewan memilih untuk mempertahankan kebijakan yang ada saat ini. Terhadap euro, yen melemah 0,8% ke 180,32 yen. Pelemahan yen menyusul data hari Jumat yang menunjukkan inflasi inti Jepang bertahan stabil di dekat target bank sentral sebesar 2% pada bulan Agustus, menyoroti meningkatnya tekanan harga.

     Perhatian kini tertuju pada konferensi pers Gubernur Kazuo Ueda, di mana ia akan menjelaskan keputusan bank sentral. Pound Inggris menguat 0,1% ke $1,3374, setelah Bank of England mempertahankan suku bunga pada hari Kamis dan secara tak terduga menunda penjualan obligasi pemerintah selama enam bulan. Euro menguat 0,1% ke $1,1491.

     Dolar Australia naik 0,3% ke $0,7133 setelah Gubernur Reserve Bank of Australia, Michele Bullock memperingatkan para pembuat undang-undang bahwa risiko inflasi yang diidentifikasi oleh para pengambil kebijakan tampaknya mulai menjadi kenyataan. Rekannya Selandia Baru sedikit naik naik 0,1% ke $0,5739. Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang lainnya, turun 0,1% ke 100,1900.

     Para pedagang memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve bulan depan karena investor mengatakan mereka menjadi lebih yakin terhadap upaya Ketua Kevin Warsh untuk menegaskan kembali independensi bank sentral dari Gedung Putih. Dana Fed berjangka memperhitungkankan probabilitas sebesar 53% untuk kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin pada pertemuan dua hari bank sentral bulan depan, dibandingkan dengan peluang 27,2% seminggu yang lalu, menurut alat FedWatch dari CME Group.

     Harga minyak mengawali hari lebih rendah, dengan minyak mentah Brent berjangka turun 0,9% menjadi $103,86 per barel, karena para pedagang menilai kembali risiko pasokan setelah Arab Saudi dan kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran saling melancarkan serangan pada hari Kamis. China telah meminta Teheran untuk membantu mengendalikan kelompok Houthi menyusul serangan militer gencar mereka selama sepekan terakhir, demikian ungkap tiga sumber Iran yang mengetahui masalah tersebut kepada Reuters.(Reuters, CNBC)

Investasi & trading online
PT. Central Capital Futures

#TRADINGNYAMAN