
Harga emas bertahan dekat level tertinggi tiga bulan pada hari Senin setelah melonjak lebih dari 5% pekan lalu, karena upaya Departemen Keuangan AS untuk menahan biaya pinjaman jangka panjang memicu kembali kekhawatiran mengenai dolar dan posisi fiskal negara tersebut, sehingga memperkuat permintaan terhadap emas sebagai aset penyimpan nilai alternatif.
Pada pukul 21:52 ET (01:52 GMT), harga emas naik 0,5% menjadi $4.627,69 per ons, sementara Emas Berjangka naik 0,1% menjadi $4.683,85. Harga perak turun 0,3% menjadi $68,79 per ons, sedangkan harga platinum turun 0,4% menjadi $1.872,74. Indeks Dolar AS tidak banyak berubah di 98,82. Emas melanjutkan tren penguatan yang signifikan setelah naik lebih dari 5% pekan lalu, yang menandai kenaikan mingguan ketiga berturut-turut.
Logam ini sempat diperdagangkan di atas $4.620 per ons pada hari Senin, melanjutkan kenaikan 1,9% pada hari Jumat dan tetap berada di dekat level tertinggi dalam tiga bulan. Lonjakan harga terbaru ini sangat terkait dengan keputusan mendadak Departemen Keuangan AS untuk meningkatkan pembelian surat utang pemerintah berjangka waktu lebih panjang.
Langkah tersebut menekan imbal hasil obligasi dan nilai dolar, serta memicu kembali pola investasi di mana investor lebih memilih aset riil seperti emas ketika mereka kurang yakin terhadap daya beli jangka panjang mata uang fiat. Menteri Keuangan Scott Bessent kemudian mengisyaratkan bahwa pemerintah dapat memperluas program pembelian kembali tersebut lebih jauh dan menyatakan bahwa pemerintah akan segera meluncurkan inisiatif fiskal yang bertujuan mengatasi tingginya biaya pinjaman pemerintah.
Kekhawatiran yang muncul bukan sekadar soal penurunan imbal hasil. Intervensi Departemen Keuangan telah menimbulkan pertanyaan apakah para pembuat kebijakan kini lebih bersedia mengendalikan biaya pinjaman daripada membiarkan pasar obligasi menentukannya secara bebas. Situasi ini menjadi semakin mencolok setelah utang pemerintah AS melampaui angka $40 triliun untuk pertama kalinya, sementara nilai dolar telah jatuh ke level terendah dalam lebih dari tiga bulan. World Gold Council juga menyoroti pentingnya permintaan dari bank sentral di tengah risiko geopolitik dan inflasi yang masih tinggi.(Investing, Euromoney)